Sabtu, 29 Agustus 2009

LANGIT DAN BUMI


Sahabatku, selepas salat subuh, ketika udara di kaki Gunung Slamet terasa sejuk, saya berjalan kaki pulang ke rumah dari Masjid. Langit bersih sekali, sehingga sisa-sisa bintang yang bertaburan semalam, tampak memudar seiring dengan hampir terbitnya matahari. Bumi tempat saya berpijak dan kaki saya melangkah di atasnya pun terasa kokoh. Bumi yang ditumbuhi pepohonan, dan di atasnya dibangun rumah-rumah membentuk satu komunitas yang saya ada di dalamnya. Kemudian nun jauh di utara rumah saya, berjarak kira-kira 6 kilometer, berdiri menjulang Gunung Slamet yang kokoh dan indah.

Sesampai di rumah, secangkir kopi sudah disiapkan isteri saya menebar aroma yang segar. Lalu, sejenak saya ke kamar, duduk di hamparan sajadah, mengatur nafas perlahan. Menghirupnya dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Menghirupnya dalam-dalam dan membiarkan udara bergerak dalam dada dari kiri ke kanan, dan menghembuskannya sekali lagi. Begitu berulang-ulang sampai keheningan menyergap diriku. Dan dalam keheningan itu semuanya seperti mengalir dalam diri saya, hembusan angin, gemericik air, kicau burung di pagi hari. Semuanya sibuk menyongsong karunia rahmat dari Allah Azza Wa Jalla.

Pagi pun mulai sibuk, isteri saya sibuk, anak-anak saya pun mulai sibuk mempersiapkan diri pergi ke sekolah. Jalan di depan rumah saya pun mulai sibuk, para pekerja pergi ke kantor, para pelajar dan mahasiswa pergi ke sekolah dan ke kampus. Tidak ada yang tidak sibuk. Saya yang pensiunan, apa yang dapat saya lakukan ketika semua sudah beres.

Ah, inilah waktunya aku membuka ruang kearifan dan duduk di dalamnya. Ya Tuhan tolong bimbing saya memahami kehendakMu melalui ayat-ayat dalam Kitab Suci-Mu. Amin.

Sahabat, lalu saya buka mushaf Al Quran, dan saya baca perlahan. Saya coba untuk mencermati untaian kata-kata indah. Tidak hanya indah, tetapi juga penuh hikmah dan ajaran luhur yang turun dari Tuhan Allah swt melalui Rasul PilihanNya Muhammad saw dan yang kemudian menjadi pegangan hidup manusia.

Ayat itu berbunyi demikian :

"Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui". ( QS 2 : 22 ).

Ah, begitu rupa Allah menuntun manusia untuk mengenal Dia dengan mengajak manusia memperhatikan hal-hal yang terdekat dirinya. Coba perhatikan sahabat, di situ disebut bumi, langit, air dari langit, buah-buahan sebagai rezki. Allah memberitahukan kepada kita bahwa yang dinamakan rezki atau rejeki itu bukan hanya buah-buahan, tetapi bumi, langit dan air dari langit juga rejeki dari Allah. Masih ingat kan, ketika kita bicarakan rejeki beberapa waktu yang lalu ? (1). Rejeki adalah segala sesuatu yang bermanfaat atau yang dapat diambil manfaatnya. (2). Rejeki adalah anugerah dari Allah yang sudah disediakan tanpa diminta, sehingga manusia tinggal bekerja mencari atau menggalinya.

Di sini, Allah juga menerangkan sepasang ciptaan-Nya, yaitu bumi dan langit. Bumi dihamparkan, atau dalam bahasa Allah hamparan. Ketika saya mukim selama 4 tahun di Bandung, mereka menyebut tikar dengan kata amparan, dan yang dalam bahasa Jawa disebut klasa, yang berguna untuk duduk léséhan. Duduk léséhan atau bersimpuh biasanya dilakukan oleh abdi dalêm ketika menghadap raja, atau yang dalam istilah Jawa disebut dengan marak séba sowan ngarso dalem.

Jadi ternyata bumi disebut sebagai hamparan itu adalah tempat untuk marak séba sowan Ngarso Dalem Gusti Allah, alias, tempat untuk menghadap kehadirat Tuhan Semesta Alam. Bumi – dengan demikian – adalah tempat bersujud bagi manusia, bukan hanya tempat kita mendirikan rumah, tempat kita bercocok tanam.

Mari kita renungkan, sahabat, tentang bumi ini. Sebelumnya saya ingatkan kembali pada sabda Nabi Muhammad saw, bahwa ayat-ayat Al Quran memiliki makna yang nyata dan ada pula makna kiasan. Maka, kata bumi dalam ayat ini pun memiliki kedua makna itu. Itulah sebabnya, saya ingin mengajak kalian menguak makna yang nyata dan makna kiasan agar kita memperoleh palajaran yang berharga. Karena :

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. ( QS 7 : 10 ).

Bumi – dalam makna yang nyata – adalah bumi tempat kita bermukim. Di dalam bumi yang nyata ini, terkandung begitu banyak karunia Allah, ladang rejeki bagi manusia semuanya diserahkan pengelolaannya kepada manusia, baik secara sendiri-sendiri, maupun secara kolektif. Dengan pengertian ini, maka manusia diperintahkan untuk memakmurkan bumi.

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." ( QS 11 : 61 ).

Meskipun secara eksplisit ayat tersebut bercerita tentang kaumnya Nabi Shaleh, tetapi – seperti sudah saya sebutkan – ketika kisah itu diceritakan dalam Al Quran, maka Nabi Shaleh itu adalah simbolisasi dari para penerus tugas risalah yang mengingatkan manusia supaya menyadari kedudukan dan fungsinya sebagai khalifah Tuhan. Di sini, Nabi Shaleh menyebutnya dengan istilah pemakmur, yaitu manusia yang bertugas untuk menjadikan bumi ini makmur.

Tetapi dalam perjalanannya, karena bumi yang dihamparkan oleh Allah ini dihuni oleh manusia yang banyak, yang masing-masing membawa kepentingannya, maka tidak mengherankan jika kemudian terjadi konflik kepentingan. Kadang-kadang konflik ini berujung para upaya untuk saling menundukkan atau saling menguasai. Akibatnya, perang tidak dapat dihindari, yang terus menerus terjadi dari skala yang paling kecil sampai skala yang paling besar, yakni Perang Dunia.

Sesungguhnya, konsep Tuhan yang dituangkan manual standared operational prosedur (SOP) para pemakmur bumi adalah :

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. ( QS 66 : 6 ).

Pertama kali, manusia diperintahkan untuk memelihara dirinya. Setelah dirinya dapat dipelihara, barulah manusia dibebani kewajiban untuk memelihara keluarga. Jadi konsepnya adalah dari diri manusia. Jika bicara masalah diri manusia, maka Rasulullah saw memerintahkan untuk mulailah dari dirimu. Diri manusia sebagai poros siklus kehidupan.

Manusia sebagai poros menjadikan dirinya berada pada posisi yang rentan dan sarat dengan konflik kepentingan antara memenuhi hasrat nafsu dan harapan untuk mencapai derajat mulia. Dan dalam bahasa Tuhan, kondisi manusia yang demikian itu digambarkan dengan sangat indah, yaitu :

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing . Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? ( QS 55 : 19-21 )

Di situ disebut dua lautan yang mengalir dan keduanya bertemu tanpa ada pembatas antara keduanya tetapi masing-masing tidak saling melampaui. Catatan kaki Tafsir Departemen Agama, tentang hal ini, menulis demikian, “di antara ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa la yabghiyan maksudnya masing-masingnya tidak menghendaki. Dengan demikian maksud ayat 19-20 ialah bahwa ada dua laut yang keduanya tercerai karena dibatasi oleh tanah genting, tetapi tanah genting itu tidaklah dikehendaki (Tidak diperlukan) Maka pada akhirnya, tanah genting itu dibuang (digali untuk keperluan lalu lintas), Maka bertemulah dua lautan itu. seperti terusan Suez dan terusan Panama”.

Apa yang dikemukakan dalam tafsir tersebut memang merupakan upaya untuk melakukan pendekatan dengan kenyataan bahwa ada upaya manusia untuk menyatukan dua lautan yang dibatasi oleh tanah genting sehingga berdirilah Terusan Suez dan Terusan Panama.

Tetapi saya ingin menggambarkannya dari pengalaman perjalanan spiritual, yakni : dua lautan yang dimaksud adalah lautan jasmani dan lautan rohani, sebab dalam ayat tersebut terdapat kata-kata “Dia membiarkan dua lautan mengalir dan kemudian keduanya bertemu”. Dia yang dimaksud adalah Allah, yang mempertemukan jasmani dan rohani melalui proses peniupan roh. Itulah dua lautan itu yang beremu tetapi tidak saling melampaui.

Di antara dua lautan atau di pertemuan dua lautan itulah posisi manusia, sehingga dia juga berada di antara dua kepentingan, yaitu kepentingan jasmani dan rohani. Seperti sebuah pendulum yang kadang bergerak ke arah jasmani dan pada satu ketika bergerak ke arah rohani. Di sinilah urgensi al-jihad-al-nafs. Maka Nabi Muhammad saw menyatakan untuk memulai dari diri sendiri, yakni memulai dengan selalu membuat keseimbangan. Manusia yang selalu berusaha hidup seimbang itulah yang disebut sebagai manusia yang telah mampu memelihara dirinya.

Setelah itu, barulah dia berusaha untuk memelihara keluarganya. Rasanya memang sulit bagi manusia yang belum mampu memelihara dirinya itu akan mampu menyelamatkan keluarganya. Siapa pun akan dapat memimpin orang lain, jika dia lebih dulu memimpin dirinya sendiri.
Nah, manusia yang demikianlah yang dijadikan khalifah atau pemakmur bumi yang besar dan dihuni oleh milyaran manusia.

Bagaimana dengan bumi – dalam makna kiasan – hendak kita bicarakan ? Marilah kita melakukan tafakur sejenak, pada ayat yang sedang kita renungkan ini.

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui. ( QS 2 : 22 ). Perhatikan sahabat pada kata bumi sebagai hamparan bagimu, dan pada ayat lain disebut :

Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. ( QS 43 : 10 )

Pengertian tempat menetap, adalah tempat manusia bermukim. Mari kita tafakuri diri kita. Bukankah di dalam diri kita ada dua unsur, yang disebut unsur bumi atau tanah yaitu jasad, dan unsur rohani, yaitu roh yang ditiupkan oleh Allah dengan sebutan ruhKu. Roh itu mendiami jasad yang terbuat dari bumi. Maka bukankah itu berarti bumi yang dimaksud juga bumi kiasan yaitu jasad manusia ?

Coba perhatikan pula ungkapan “Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk”. Bukankah itu berarti Allah bukan sedang berbicara tentang bumi yang nyata melainkan bumi yang kiasan ? Sebab pada bumi yang nyata, manusialah yang membuat dan membangun jalan. Tetapi pada bumi yang kiasan, yaitu jasad manusia, ada jalan-jalan yang disebut dengan kata subulâ dari kata sabil. Berbeda dengan shirat yang juga berarti jalan – yang acapkali ditafsirkan oleh para mufasir sebagai jalan yang lurus, lebar dan luas – maka sabil adalah jalan-jalan kecil yang menuju ke sebuah shirat, sehingga di sini Allah menggunakan istilah sabil dalam jasad manusia dengan tujuan agar manusia mendapat petunjuk.

Petunjuknya sendiri ada di shirat, karena di sana Allah berada, ini sudah kita bahas sebelumnya. Untuk sampai ke al-shirat al-mustaqim, manusia harus lebih dahulu menyusuri subulâ, yang ada pada jasadnya. Karena :

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? ( QS 41 : 53 ).

Sahabat, saya sedang mengajak kalian merenungkan makna kiasan bumi adalah jasad kita dengan bertafakur atas diri kita, karena memang Allah menyebutkan ada tanda-tanda atau ayat-ayat-Nya pada diri kita. Jalan untuk mendapatkan petunjuk yang ada pada jasad manusia disebut sebagai sabil, yang harus dapat ditemukan. Sebab tanpa menemukan jalan ini, maka manusia tidak akan dapat memperoleh petunjuk.

Tugas kalian, sahabat, adalah mencari tahu dan menemukan jalan-jalan yang ada pada jasadmu melalui perjalanan spiritual. Tetapi, harus saya katakan, sahabat, untuk menempuh jalan ini memang memerlukan sebuah pengorbanan, ketekunan, kerelaan, keikhlasan dan yang terutama adalah keberanian, karena ini semua adalah bagian dari al-jihad al-nafas.

Saya kira pembicaraan tentang bumi, cukup untuk saat ini. Dalam perjalanan panjang kita ini, sahabat, nanti kita pun akan banyak bertemu dengan ayat-ayat yang bercerita tentang bumi, yang tidak kurang terdapat dalam 476 tempat atau ayat. Maka untuk saat ini, cukup yang ini dulu.

Karena sesungguhnya kita ingin membicarakan hal lainnya, yaitu tentang langit. Tetapi saya khawatir kalian sudah lelah, maka pembicaraan mengenai langit, akan kita lanjutkan dalam renungan kita selanjutnya. Saya hanya ingin berpesan kepada kalian sahabat, pergunakanlah waktu luang kalian untuk merenungkan apa yang sudah kita peroleh hari ini. Mudah-mudahan kalian mendapat pencerahan.

Insya Allah.[fat].

Jumat, 21 Agustus 2009

KEESAAN TUHAN


Sahabatku, hari ini indah sekali. Setelah kita memanfaatkan waktu untuk bertafakur, merenung, bermeditasi atau melakukan kontemplasi, rasanya kita mulai dapat merasakan betapa nyamannya hidup jika kita jujur pada diri sendiri. Dengan kejujuran yang jernih, kita – insya Allah – akan mampu membuat possitioning yang tepat untuk diri kita. Tidak mengapa, jika misalnya kita tiba-tiba menyadari, ternyata posisi diri ini berada pada tempat atau kelompok al-kafirun. Tidak mengapa, karena menyadari bahwa diri ini masih kafir, masih tertutup pandangan mata qolbu kita, itu jauh lebih penting daripada kita mengaku-aku sebagai al-muttaqin. Mengaku-aku itu artinya kita belum dapat jujur pada diri kita.

Lebih baik mengaku masih dalam posisi al-kafirun, karena pengakuan ini akan mendorong kita untuk mengubah nasib kita. Karena Allah sudah menyatakan dalam firman-Nya bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu tidak mengubah nasibnya sendiri. Artinya, nasib kita berada di tangan kita. Allah menunggu kita, apakah kita mau mengubah nasib atau tidak. Maka, jika kita jujur menempatkan diri, itu tandanya perubahan nasib sudah akan dimulai. Kalau kita tidak jujur atau menipu diri kita sendiri, maka Allah pun akan cuci tangan.

Nah, dengan bekal itu, sekarang kita menatap hari ini dan hari esok dengan pandangan optimis, sehingga kita akan mampu merenungi ayat Allah berikut ini :

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. ( QS 2 : 21 ).

Coba mari kita perhatikan. Allah memanggil : Hai manusia. Indah sekali panggilan ini. Allah memanggil sekelompok mahluk tanpa membeda-bedakan. Dia hanya menyebut manusia. Padahal sebelumnya, kita baru saja disodori tiga kelompok manusia, yaitu al-muttaqin, al-kafirun dan al-munafiqun. Lalu tiba-tiba Allah memanggil Hai manusia. Artinya, baik al-muttaqin, al-kafirun dan al-munafiqun semuanya dipanggil oleh Allah. Sebuah panggilan yang sangat menyentuh, karena itu adalah panggilan yang egaliter.

Di sini kita mulai menyadari betapa pentingnya sikap jujur kita, agar kita dapat menyerap prinsip kesetaraan yang merupakan hukum Tuhan. Buktinya di sini Dia hanya menyebut manusia tanpa embel-embel apa pun. Sikap Tuhan yang demikian itu pun sesungguhnya merupakan perintah kepada manusia agar memegang prinsip kesetaraan. Tidak membangun eksklusivisme dalam hidup. Atau dengan kata lain, Tuhan sedang memerintahkan manusia untuk menanggalkan atribut keduniawian, kembali kepada atribut langit atau atribut rohani sebagai mahluk yang mulia karena berasal dari tiupan Tuhan. Ini juga merupakan curahan sifat Maha Pemurah Tuhan terhadap hamba-hamba-Nya. Semua dipanggilnya dengan panggilan yang setara. Manusia. Sekali lagi, hanya manusia. Tidak ada atribut apa pun. Termasuk atribut agama.

Perhatikan lanjutan ayat ini : sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu.

Sungguh perintah yang lembut dan indah. Sembahlah Tuhanmu, yaitu Tuhan manusia. Di sini Dia menyebut dirinya dengan Robbukum, yang artinya Dia sedang menyebut Eksistensi Zat-Nya. Dia tidak menyebut nama, tetapi Zat. Maka perintahNya pun menjadi lebih jelas, manusia diperintah menyembat Zat Tuhan. Yang harus disembah adalah Zat-Nya. Bukan Asma-Nya.

Pernyataan tersebut sekaligus juga merupakan bukti bahwa Zat Tuhan itu satu adanya. Sehingga sebutan yang dipergunakan juga Ar-Robb. Zat Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Tuhan.

Mengapa Tuhan tidak menyebut Asma-Nya sebagai Zat yang harus disembah ? Karena ada begitu banyak nama yang dilekatkan oleh para penyembah Tuhan kepada Tuhan. Orang Arab menyebutnya Allah, sebutan nama yang kemudian dinisbatkan sebagai Tuhannya orang Islam. Dengan tekanan vokal yang sedikit berbeda, orang Nasrani pun memanggilnya Allah, kadang-kadang juga disebut dengan Allah Bapa, atau hanya Bapa saja. Ada juga yang memanggil Tuhan dengan panggilan Sang Hyang Adhi Budha, Hyang Widhi, Tao dan sebutan-sebutan lain.

Begitu beragamnya nama Tuhan, sehingga Dia menyatakan :

Katakanlah: "Serulah Allah atau Serulah Ar-Rahman. DENGAN NAMA YANG MANA SAJA KAMU SERU, Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya[870] dan carilah jalan tengah di antara kedua itu". ( QS 17 : 110 ).

Sahabatku, tolong perhatikan bagian kalimat yang saya tulis dengan huruf besar. Itu adalah pernyataan eksplisit Tuhan bahwa Dia tidak berkeberatan dipanggil dengan nama apa pun karena setiap nama yang dilekatkan kepadanya oleh manusia pasti adalah nama yang terbaik. Tentu saja terbaik menurut kaidah bahasa yang dipergunakan oleh manusia penggunanya. Makanya ada sebutan Allah yang disebut oleh orang Islam sebagai Nama Yang Teragung. Lalu ditambah dengan Bapa, menjadi Allah Bapa, menunjukkan bahwa Dia adalah Penguasa Tunggal. Ada pula yang memanggil dengan sebutan Sang Hyang atau Hyang saja, menunjukkan bahwa Dia adalah Maha Tinggi. Begitu pula ada yang memanggilnya Tao atau To saja untuk menunjukkan bahwa Dia itu adalah Sang Maha Wujud.

Kalian masih ingat bukan, ketika membahas nama di bagian pertama renungan kita saya menyitir sebuah syair kearifan penganut Taoisme : suatu nama yang dapat disebut / bukanlah nama sebenarnya. Artinya, hanya Tuhan sendiri yang tahu Nama Dia yang sejati. Atau, syair itu ingin mengajak manusia tidak lagi mempersoalkan nama-nama Tuhan yang disebutkan dengan sebutan yang berlain-lainan antarpemeluk agama. Itu pun seruan bahwa yang paling penting bagi manusia adalah mengetahui bahwa yang disembah adalah Zat Yang Maha Suci, yang laisa kamitslihi syai’un.

Lagi pula, Tuhan pun menyebut dengan Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu. Kata sebelummu jika diucapkan saat ini berarti adalah manusia di masa lalu. Tetapi jika diucapkan nanti, maka berarti adalah manusia di masa sekarang. Sedangkan kata kamu, jika diucapkan saat ini, berarti adalah kita, dan jika diucapkan nanti, berarti adalah mereka generasi penerus.

Lalu kata Tuhanmu, jika diucapkan oleh orang Islam, artinya adalah Tuhan yang dipanggil Allah oleh orang Islam. Sedangkan jika diucapkan oleh orang Nasrani, juga berarti Tuhan yang dipanggil Allah Bapa oleh orang Nasrani. Jika disebutkan oleh penganut aliran kepercayaan pun berarti Tuhannya para penganut aliran kepercayaan.

Maknanya, hanya ada satu pencipta manusia yaitu Tuhan Yang Maha Tunggal, dan hanya ada satu Tuhan yang disembah oleh umat manusia di mana pun dengan latarbelakang budaya dan kepercayaan apa pun.

Sungguh luarbiasa, sahabatku. Maka, jika kalian sudah tahu hal ini, janganlah kalian berburuk sangka kepada orang yang memanggil Tuhan dengan panggilan nama yang berbeda dengan cara kalian memanggil, karena dia pun sedang memanggil Zat Tuhan Yang Satu. Kita diperintah oleh Tuhan untuk menyembah Dia Yang Maha Tunggal, dengan tujuan yang jelas seperti dikatakan Tuhan, yaitu agar kamu bertakwa. Atau dengan kata lain : agar kamu menjadi orang bertakwa.

Nah, bukankah itu berarti sebutan takwa itu hanya layak dipegang atau disematkan kepada orang yang sudah mengenal Tuhan, sehingga dia tidak mempermasalahkan lagi sebutan-sebutan untuk Tuhan Yang Esa. Siapa pun yang masih membeda-bedakan sebutan nama untuk Tuhan, sesungguhnya belum layak menyandang gelar al-muttaqin.

Dan, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.[fat]


Senin, 17 Agustus 2009

MASIH TENTANG AL-MUNAFIQUN


Sahabatku, kita masih hendak merenung lagi tentang orang-orang munafik. Memang kalau mau dirasakan dengan nafsu, maka tentu kita akan menjadi bosan. Tetapi saya hanya ingin mengingatkan, bahwa tujuan perenungan kita atas ayat-ayat Al Quran adalah untuk mengetahui di mana tempat kita. Kalau kita memakai jargon para cerdik cendekia, maka saya katakan, tujuan kita adalah untuk mengetahui possitioning kita. Di zaman teknologi ini, masalah possitioning ini kelihatannya begitu penting, sehingga siapa pun beramai-ramai membicarakan masalah ini. Semua pakar bicara possitioning, dari masing-masing sudut pandang. Tetapi umumnya, maksud possitioning mereka baru sebatas possitioning dalam kesadaran materi, untuk merebut pasar, untuk memperoleh dukungan pemilih, untuk merebut jabatan tertentu. Hampir tidak ada yang berbicara tentang possitioning secara spiritual, yaitu possitioning kita di hadapan Tuhan.

Padahal, para pendahulu kita – terutama para tokoh sufi – sangat menganjurkan hal itu. Hanya saja, bahasa yang mereka pakai bukanlah bahasa yang datang dari dunia Barat, melainkan dari bahasa Arab, yakni maqom, atau kedudukan spiritual. Inilah possitioning model para sufi.

Nah, kita coba menyelusurinya melalui perenungan yang mendalam terhadap ayat-ayat Al Quran. Maka dari itu, saya berharap, janganlah sahabat merasa bosan, supaya kita tahu, di antara ketiga kelompok manusia al-muttaqîn, al-kafirûn dan al-munafiqûn, di manakah posisi kita ? Maka, silakan sahabat membuat penilaian sendiri-sendiri dengan kejujuran dan keihlasan masing-masing. Saya hanya berusaha membuka pintunya sedikit. Selanjutnya, terserah kalian.

Nah, hari ini sekali lagi kita merenungkan kelompok orang-orang munafik, dengan mengutip kembali ayat 17 untuk menjaga jangan sampai kita kehilangan hubungan dengan renungan kita sebelumnya.

17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. 18. Mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), 19. Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, Karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. 20. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. ( QS 2 : 17 – 20 ).

Allah menggunakan perumpamaan api yang dinyalakan oleh mereka dalam ayat 17. Dengan perumpamaan ini, Allah sesungguhnya ingin menjelaskan kepada kita, bahwa orang-orang munafik bukanlah orang yang tidak berbuat sesuatu. Justru mereka melakukan sesuatu. Maka di sini disimbolkan dengan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maksudnya, mereka berusaha mencari pencerahan dengan caranya sendiri, bukan dengan petunjuk Allah.

Maka dalam renungan kemarin, saya menyebutkan bahwa mereka – orang-orang munafik itu – rajin datang ke pengajian, ke majelis taklim, ke majelis zikir. Itu adalah gambaran orang-orang yang sedang menyalakan api. Mereka sedang mencari pencerahan tetapi karena pencarian mereka tidak mengikuti jejak dan teladan yang telah dicontohkan oleh para Rasul dan Nabi, ya akhirnya ketika pengajian selesai, majelis taklim bubar, dan zikir berjamah berlalu, mereka pun kembali dalam kegelapan. Allah menggambarkannya dengan kata-kata Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka. Api itu pun padam sudah bersamaan dengan usainya acara. Mereka kembali ke habitat semula.

Mengapa hal itu bisa terjadi ? Allah menjawabnya : Mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).

Ah, rasanya tanpa saya mengungkapkannya dengan kata-kata, sahabatku, kalian pasti sudah dapat merasakan bagaimana keadaan orang munafik. Sudah, tuli, bisu dan buta lagi. Tuli dan bisu biasanya adalah satu paket. Orang yang tuli dari lahir, dia akan menjadi bisu. Ini namanya paket bawaan. Lain halnya dengan orang yang mulanya dapat mendengar sehingga dia dapat berbicara, tetapi dalam perkembangannya dia menjadi tuli, mungkin karena faktor usia.

Keadaan demikian, masih lebih baik, karena mereka masih mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat.

Berbeda halnya dengan orang yang tuli, bisu dan buta. Dengan apa mereka akan berkomunikasi ? Ini adalah siksaan yang paling pedih. Begitulah orang munafik. Mereka disebut tuli, karena dia tidak dapat mendengar seruan Tuhan yang lahir dari bisikan qolbu. Jangan menganggap enteng bisikan qolbu, karena bisikan dari kedalaman qolbu itu merupakan salah satu firasat dari Tuhan tentang sesuatu. Dengarkan bisikan itu, dan ikuti.

Jika kalian masih mampu mendengar, bersyukurlah. Maka ikutilah. Tetapi jika kalian sudah tidak dapat mendengar bisikan qolbu, maka waspadalah, karena telinga qolbu kalian dalam keadaan tuli. Itu salah satu dari kondisi orang munafik.

Lalu bisu. Artinya tidak dapat berbicara. Alat bicara disebut mulut atau lisan. Mulut atau lisan yang bisu artinya adalah lisan yang tidak dapat mengucapkan sesuatu. Padahal, dia hanya akan dapat berbicara jika telinganya sudah lebih dulu mendengar. Jika telinga tidak pernah mendengar, bagaimana mulut bisa bicara. Jika telinga qolbu buta, maka bagaimana lisan qolbu kalian dapat berbicara. Padahal, doa yang paling baik adalah doa yang diucapkan melalui lisan qolbu, atau bicara dalam bathin.

Ingat firman Allah yang ini :

Dialah yang Awal dan yang Akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan dia Maha mengetahui segala sesuatu. ( QS 57 : 3 ).

Ini adalah pernyataan Allah yang amat tegas tentang eksistensiNya. Dia Yang Awal, artinya, tidak ada sesuatu yang mendahuluiNya. Dia Yang Akhir, artinya, tidak ada sesuatu setelahNya. Bukankah ini pernyataan yang lugas bahwa yang Maujud itu hanya Allah ? Alam semesta dan mahluk-mahluk lain termasuk manusia sesungguhnya tidak ada. Yang ada hanya Allah.

Mari kita renungkan : tidak ada sesuatu sebelum Dia. Artinya kan Dia tidak didahului oleh sesuatu ? Lalu : tidak ada sesuatu setelah Dia. Artinya juga, Dia tidak tidak akan berakhir. Jika pengertian setelah Dia kita maknakan dengan setelah Dia tidak ada, maka ini adalah fikiran dan kesimpulan yang amat zalim, karena kita menghukumi keberadaanNya punya batas waktu. Padahal Dia Yang Hidup dan Tidak Mati. Maka, Dia tidak mungkin menjadi tiada. Sehingga pengertian Dia Yang Awal dan Dia Yang Akhir itu justru menunjukkan bahwa hanya Dia Yang Ada, dan selain Dia itu tidak ada.

Cukup jelas bukan ?

Lalu : Dia Yang Zahir dan Dia Yang Bathin. Yang Zahir ya Allah, Yang Bathin juga Allah. Artinya, seluruh perbuatan dan kejadian apa pun adalah perbuatan Allah. Manusia dan mahluk Allah lainnya sesungguhnya hanya merupakan bayang-bayang pekerjaan Allah, atau, merupakan manifestasi keberadaan Allah, sehingga manusia – khususnya – disebut sebagai khalifah yang bertugas untuk membumikan semua sifat Allah.

Itu pula alasannya, mengapa manusia dikaruniai jasad (lahiriah) dan roh (batiniah), atau yang lahir dan yang batin. Jika yang batin tidak dapat mendengar Yang Bathin, maka dia juga tidak akan dapat berbicara dengan Yang Bathin. Artinya : permohonan dan doanya tidak didengar. Artinya, ditolak.

Lalu, jika yang batin tidak dapat melihat Yang Bathin – karena mata batinnya buta – maka dia juga tidak akan dapat kembali kepada Yang Bathin, akan tersesat.

Itulah gambaran orang munafik, tuli, bisu dan buta. Saya berharap cukup jelas apa yang dapat saya gambarkan dari hasil perjalanan spiritual yang saya lakukan untuk mendapatkan makna sejati dari tuli, bisu dan buta.

Ayat 19 dan 20 merupakan penegasan dari keadaan tuli, bisu dan buta, melalui perumpamaan hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat, yakni keadaan yang menyeramkan dan diliputi ketakutan luarbiasa sampai-sampai mereka harus menyumbat telinganya dengan anak jarinya. Padahal hujan lebat yang turun itu adalah yang menyebabkan bumi yang mati menjadi hidup. Hujan yang lebar juga simbolisasi dari rahmat Tuhan yang turun kepada manusia. Sedangkan gelap gulita adalah isyarat akan turunnya hujan, atau isyarat akan turunnya rahmat. Gelap gulita juga bermakna informasi tentang saatnya manusia beristirahat. Lalu guruh dan kilat itu sejatinya adalah peringatan-peringatan Tuhan tentang begitu cepatnya hidup di dunia, atau begitu cepatnya kilasan-kilasan ilham yang didatangkan Tuhan melalui bisikan qolbu.

Bagi orang munafik, keadaan itu menakutkan, karena menganggap itu adalah tanda-tanda bencana, karena memang hujan lebat dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor. Itu disadari oleh orang munafik, tetapi mereka tidak sampai pada kesimpulan bahwa banjir dan tanah longsor itu hanyalah akibat dari perbuatan tangan mereka yang menebangi hutan tanpa perhitungan. Mereka merusak alam dengan argumen untuk membangun. Mana bisa membangun dengan merusak. Atau mana bisa merusak dijadikan metode untuk membangun. Itu semua karena mereka tuli, bisu dan buta.

Mereka takut akan mati. Jadi, orang munafik adalah orang yang takut mati.

Memang, satu-satunya kebaikan yang tidak dapat ditiru oleh orang munafik adalah jihad, dalam pengertian berjuang atau perang, baik melawan musuh yang nyata maupun melawan hawa nafsu. Mereka tidak akan berani. Sehingga ketika Rasulullah saw memerintahkan “rasailah mati sebelum mati”, mereka pun dengan serta merta menolak dengan berbagai hujjah yang dicari-cari.

Orang munafik juga digambarkan begini : setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Kilat adalah lontaran sinar dalam sekejap sebelum datang petir. Sinar kilat adalah simbolisasi dari pencerahan atau ayat yang dibacakan, ketika kilat menyambar dia berjalan, tapi hanya sekejap saja, karena gelap pun kembali menyergap.

Itu adalah gambaran betapa orang munafik akan selalu gagal mengambil iktibar, maupun pelajaran dari ayat-ayat Allah. Mereka membacanya, tetapi tidak ada satu pun yang dapat dimengerti, karena datangnya hanya seperti kilat, sekejap lalu hilang. Dibaca lagi, hilang lagi. Begitu terus menerus. Semakin banyak ia membaca, bukannya semakin paham, tetapi sebaliknya justru semakin tidak paham. Penyebabnya adalah : karena Allah meliputi orang-orang yang kafir. Meliputi artinya memasang hijab, atau menutupi sehingga tidak mampu mendengar dan tidak mampu melihat. Di sini pun kita diberi informasi bahwa orang munafik sesungguhnya bagian dari orang kafir. Sebagai bagian dari orang kafir, maka mereka pun penentang sejati. Hanya saja, mereka tidak memiliki keberanian, penakut dan tidak berprinsip, maka penentangan mereka pun dibungkus dengan sikap berpura-pura.

Jika orang muttaqin digambarkan dengan cahaya yang terang benderang, dan orang kafir digambarkan dengan gelap pekat, maka orang munafik disebut sebagai terang tidak gelap juga tidak. Tidak putih dan tidak hitam. Atau yang sering disebut berada pada grey area atau area/wilayah abu-abu. Abu-abu juga sering diucapkan kelabu, tidak jelas posisinya. Maka nasib orang munafik pun menjadi kelabu. Tidak jelas.

Jadi, dapatkah kalian meraba-raba, kiranya di manakah posisioning kalian ? Jawablah dengan jujur. Kalau tidak, kalian akan gagal kembali ke jalan Allah untuk selama-lamanya. Jadilah orang yang jujur. Terutama jujur pada diri sendiri.

Dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui. [fat].



Jumat, 14 Agustus 2009

LEBIH JAUH TENTANG AL MUNAFIKUN


Sahabatku, mari kita melanjutkan renungan kita. Kali ini kita masih akan merenung tentang orang-orang munafik. Pada renungan sebelumnya, saya sudah menceritakan penemuan hakikat orang munafik pada tataran awal, yakni : orang yang diliputi keraguan karena tidak memiliki argumentasi untuk menolak maupun menerima ajaran ; mereka juga orang yang tidak jujur pada diri sendiri sehingga menipu diri sendiri tetapi mereka merasa sedang menipu Allah dan orang beriman. Karena dua sikapnya itu, orang munafik disebut menerima azab yang pedih dari Allah. Sehingga kita pun jadi mengerti bahwa azab pedih itu bukan berupa panas api neraka saja, tetapi juga berupa kegelisahan sebagai buah kemunafikan.

Sekarang, mari kita bersama kembali bertafakur, merenungkan ayat selanjutnya, yaitu :

"11. Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." 12. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. 13. Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman." Mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. 14. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok." 15. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. 16. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. 17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat". ( QS 2 : 11-17 ).

Beberapa kata dalam terjemahan di atas sengaja saya beri garis bawah, karena kata-kata tersebut akan menuntun kita untuk mengenali lebih jauh tentang orang-orang munafik, yaitu : pertama, orang munafik adalah mereka tidak sadar, bukan berarti mereka sedang pingsan, melainkan mereka melakukan sesuatu, tetapi mereka tidak sadar mengapa atau untuk alasan apa mereka melakukan pekerjaan itu. Mereka menyangka telah berbuat baik, padahal sesungguhnya mereka sesungguhnya sedang melakukan kerusakan. Tegas sekali Allah menyatakan, bahwa orang munafik tidak pernah akan menyadari bahwa perbuatannya itu merusak dirinya sendiri, merusak masyarakat dan merusak lingkungan.

Pengertian merusak ini pun maknanya sangat luas, meliputi kerusakan lahiriah maupun batiniah. Merusak fisik dan mental. Membuat kerusakan material dan spiritual. Mungkin saja mereka punya argumentasi bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal-hal yang baik, melindungi kepentingan umum, dan alasan-alasan indah lainnya. Tetapi sejatinya mereka tetap merusak. Alasan melindungi dan menata kepentingan umum, melindungi dan menjaga akidah umat, itu hanya sekedar untuk menjadi pembenaran atas tindakannya. Coba saja kita cermati sekeliling kita – dengan hati dan pikiran yang jujur dan jernih – niscaya akan kita dapati kenyataan seperti itu.

Dalam jangka dekat, perilaku orang-orang yang tidak sadar itu mungkin tidak merugikan. Tetapi dalam jangka panjang, kerugian itu baru akan dirasakan, justru ketika orang-orang munafik itu sudah tidak lagi hidup di dunia. Pada awalnya, penebangan hutan yang dilakukan, tampaknya memberikan “keuntungan” berupa devisa untuk menyejahterakan rakyat. Tetapi, duapuluh atau tigapuluh tahun kemudian, penghasilan dari penebangan hutan itu tidak cukup untuk membayar kerusakan lingkungan, tanah longsor, banjir dan berbagai musibah lain.

Sahabatku, kalian tentu dapat mencari dan menemukan sendiri bukti yang ada di sekitar kita bukan ? Alhamdulillah.

Kedua, orang munafik adalah mereka yang sok tahu. Dalam bahasa Al Quran disebut sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. Ungkapan Allah sungguh menusuk hati. Coba resapkan dengan cermat. Jika tidak dapat merasakan saya akan ganti kalimat itu dengan kalimat saya sendiri, begini : mereka itu sudah bodoh, sok tahu lagi.
Memang tidak mudah mencermati ungkapan Al Quran bagi manusia yang hatinya keras bagai batu. Al Quran hanya dapat dicerna, direnungkan, dicermati oleh manusia yang hatinya lembut, karena Al Quran diturunkan oleh Al-Lathif, Yang Maha Lembut, Yang Maha Halus. Itulah alasannya mengapa manusia harus melatih dan membiasakan diri berfikir lembut dan halus supaya kata-katanya pun menjadi lembut dan halus sehingga melahirkan perilaku yang lembut dan halus.

Itulah sebabnya, orang munafik itu disebut hatinya berpenyakit. Mereka adalah orang yang paling sulit diberi pengertian dan penjelasan. Al Ghazali menyebut salah satu golongan atau kelompok manusia dengan ungkapan “mereka tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu”, sekali lagi bahasa yang amat halus. Dalam bahasa yang lugas disebut mereka itu sok tahu. Inilah yang disebut kelompok manusia munafik. Mereka adalah kelompok sasaran dakwah yang paling sulit disadarkan.

Ketiga, orang munafik adalah mereka yang suka berolok-olok. Dalam bahasa Al Quran disebut dengan ungkapan : bila bertemu dengan orang beriman, mereka berkata kami telah beriman, tetapi bila bertemu orang kafir (yang disebut dengan istilah setan-setan mereka) mereka berkata, kami sependirian dengan kamu, kami hanya berolok-olok. Itu adalah penjelasan untuk kata oportunis, yakni orang-orang yang hanya memikirkan keuntungan pribadi. Siapa yang dirasa dapat memberi keuntungan kepada mereka orang munafik akan condong dan berfihak. Tetapi, begitu tidak ada lagi keuntungan yang dapat dipetik, mereka serta merta meninggalkannya. Dalam ungkapan Jawa disebut mencala putra-mencala putri atau esuk dele sore tempe.

Keempat, orang munafik adalah mereka yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Ini sangat niscaya, karena sifat dasar orang munafik adalah oportunistis, tidak berpendirian, lain kata lain perbuatan, ke mana angin bertiup ke sana layar diarahkan. Mereka jelas tidak memiliki nilai moral, karena begitu nilai moral yang diyakini dirasa tidak memberi keuntungan apa-apa, dengan mudah mereka akan meninggalkannya dan menggantinya dengan yang dirasa lebih memberi keuntungan.

Allah menggambarkannya begini :

"Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong". ( QS 2 : 86 ).

Dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad saw melaksanakan tugas dakwah, Beliau lebih sering direpotkan oleh orang-orang munafik daripada oleh orang-orang kafir. Sebab orang kafir jelas sikapnya. Orang munafik, tidak akan terlihat secara fisik. Mereka mungkin ikut berhijrah bersama Rasulullah saw, datang dan salat jamaah di masjid bersama Rasulullah saw, atau pun mereka membayar zakat, berpuasa, pergi haji dan semua bentuk perilaku kebaikan mereka kerjakan. Dengan itu semua, mereka merasa telah melakukan perbuatan baik. Mereka tidak tahu, bahwa Allah tidak akan pernah dapat tertipu. Karena Allah tidak melihat gerak perbuatan lahir manusia, melainkan lebih pada kualitas batin atau rohani manusia.

"Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan". ( QS 49 : 18 ).

Jika Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi, tentu Allah juga mengetahui isi hati, niat atau moptivasi manusia yang mengerjakan kebaikan maupun keburukan.

Maka Rasulullah Muhammad saw mengingatkan : “segala sesuatu tergantung kepada niatnya. Jika kamu berhijrah karena Allah dan RasulNya, maka kamu akan mendapatkan kebaikan, tetapi jika kamu berhijrah karena seorang wanita cantik, maka kamu akan mendapatkan apa yang kamu niatkan”.

Orang munafik – yang selalu bersikap lain di mulut lain di hati – pun akan mendapatkan apa yang terpateri dalam hatinya. Mulutnya mengucapkan beriman, tetapi hatinya ragu-ragu, maka yang dia peroleh hanya keraguan yang terus menerus. Dia baru akan sembuh dari penyakit munafik, bila telah mampu mengatasi keragu-raguannya dengan menundukkan ego dan dengan bersikap jujur pada dirinya sendiri. Atau dengan kata lain, dia harus lebih dulu menjadi orang yang merdeka.

Dalam ayat yang sedang kita bicarakan ini, Allah membuat perumpamaan orang munafik akan merasa mendapat pencerahan, duduk di sekeliling api. Tetapi, Allah akan memadamkan api, dan mereka dalam kegelapan. Itu adalah gambaran orang-orang munafik yang datang ke pengajian, ke majelis-majelis taklim, menyenandungkan zikir sampai bercucuran airmata. Tetapi, begitu pengajian selesai, taklim berakhir dan zikir tidak lagi dikumandangkan, mereka kembali dalam kebiasaan lama, meraba-raba, gelisah dan ragu. Apa yang didapat di pengajian, majelis taklim dan zikir berjamaah pun bagai lenyap ditelan bumi.

Dan, hanya Allah Yang Maha Mengetahui. [fat].