Sahabatku, selepas salat subuh, ketika udara di kaki Gunung Slamet terasa sejuk, saya berjalan kaki pulang ke rumah dari Masjid. Langit bersih sekali, sehingga sisa-sisa bintang yang bertaburan semalam, tampak memudar seiring dengan hampir terbitnya matahari. Bumi tempat saya berpijak dan kaki saya melangkah di atasnya pun terasa kokoh. Bumi yang ditumbuhi pepohonan, dan di atasnya dibangun rumah-rumah membentuk satu komunitas yang saya ada di dalamnya. Kemudian nun jauh di utara rumah saya, berjarak kira-kira 6 kilometer, berdiri menjulang Gunung Slamet yang kokoh dan indah.
Sesampai di rumah, secangkir kopi sudah disiapkan isteri saya menebar aroma yang segar. Lalu, sejenak saya ke kamar, duduk di hamparan sajadah, mengatur nafas perlahan. Menghirupnya dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Menghirupnya dalam-dalam dan membiarkan udara bergerak dalam dada dari kiri ke kanan, dan menghembuskannya sekali lagi. Begitu berulang-ulang sampai keheningan menyergap diriku. Dan dalam keheningan itu semuanya seperti mengalir dalam diri saya, hembusan angin, gemericik air, kicau burung di pagi hari. Semuanya sibuk menyongsong karunia rahmat dari Allah Azza Wa Jalla.
Pagi pun mulai sibuk, isteri saya sibuk, anak-anak saya pun mulai sibuk mempersiapkan diri pergi ke sekolah. Jalan di depan rumah saya pun mulai sibuk, para pekerja pergi ke kantor, para pelajar dan mahasiswa pergi ke sekolah dan ke kampus. Tidak ada yang tidak sibuk. Saya yang pensiunan, apa yang dapat saya lakukan ketika semua sudah beres.
Ah, inilah waktunya aku membuka ruang kearifan dan duduk di dalamnya. Ya Tuhan tolong bimbing saya memahami kehendakMu melalui ayat-ayat dalam Kitab Suci-Mu. Amin.
Sahabat, lalu saya buka mushaf Al Quran, dan saya baca perlahan. Saya coba untuk mencermati untaian kata-kata indah. Tidak hanya indah, tetapi juga penuh hikmah dan ajaran luhur yang turun dari Tuhan Allah swt melalui Rasul PilihanNya Muhammad saw dan yang kemudian menjadi pegangan hidup manusia.
Ayat itu berbunyi demikian :
"Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui". ( QS 2 : 22 ).
Ah, begitu rupa Allah menuntun manusia untuk mengenal Dia dengan mengajak manusia memperhatikan hal-hal yang terdekat dirinya. Coba perhatikan sahabat, di situ disebut bumi, langit, air dari langit, buah-buahan sebagai rezki. Allah memberitahukan kepada kita bahwa yang dinamakan rezki atau rejeki itu bukan hanya buah-buahan, tetapi bumi, langit dan air dari langit juga rejeki dari Allah. Masih ingat kan, ketika kita bicarakan rejeki beberapa waktu yang lalu ? (1). Rejeki adalah segala sesuatu yang bermanfaat atau yang dapat diambil manfaatnya. (2). Rejeki adalah anugerah dari Allah yang sudah disediakan tanpa diminta, sehingga manusia tinggal bekerja mencari atau menggalinya.
Di sini, Allah juga menerangkan sepasang ciptaan-Nya, yaitu bumi dan langit. Bumi dihamparkan, atau dalam bahasa Allah hamparan. Ketika saya mukim selama 4 tahun di Bandung, mereka menyebut tikar dengan kata amparan, dan yang dalam bahasa Jawa disebut klasa, yang berguna untuk duduk léséhan. Duduk léséhan atau bersimpuh biasanya dilakukan oleh abdi dalêm ketika menghadap raja, atau yang dalam istilah Jawa disebut dengan marak séba sowan ngarso dalem.
Jadi ternyata bumi disebut sebagai hamparan itu adalah tempat untuk marak séba sowan Ngarso Dalem Gusti Allah, alias, tempat untuk menghadap kehadirat Tuhan Semesta Alam. Bumi – dengan demikian – adalah tempat bersujud bagi manusia, bukan hanya tempat kita mendirikan rumah, tempat kita bercocok tanam.
Mari kita renungkan, sahabat, tentang bumi ini. Sebelumnya saya ingatkan kembali pada sabda Nabi Muhammad saw, bahwa ayat-ayat Al Quran memiliki makna yang nyata dan ada pula makna kiasan. Maka, kata bumi dalam ayat ini pun memiliki kedua makna itu. Itulah sebabnya, saya ingin mengajak kalian menguak makna yang nyata dan makna kiasan agar kita memperoleh palajaran yang berharga. Karena :
Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. ( QS 7 : 10 ).
Bumi – dalam makna yang nyata – adalah bumi tempat kita bermukim. Di dalam bumi yang nyata ini, terkandung begitu banyak karunia Allah, ladang rejeki bagi manusia semuanya diserahkan pengelolaannya kepada manusia, baik secara sendiri-sendiri, maupun secara kolektif. Dengan pengertian ini, maka manusia diperintahkan untuk memakmurkan bumi.
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." ( QS 11 : 61 ).
Meskipun secara eksplisit ayat tersebut bercerita tentang kaumnya Nabi Shaleh, tetapi – seperti sudah saya sebutkan – ketika kisah itu diceritakan dalam Al Quran, maka Nabi Shaleh itu adalah simbolisasi dari para penerus tugas risalah yang mengingatkan manusia supaya menyadari kedudukan dan fungsinya sebagai khalifah Tuhan. Di sini, Nabi Shaleh menyebutnya dengan istilah pemakmur, yaitu manusia yang bertugas untuk menjadikan bumi ini makmur.
Tetapi dalam perjalanannya, karena bumi yang dihamparkan oleh Allah ini dihuni oleh manusia yang banyak, yang masing-masing membawa kepentingannya, maka tidak mengherankan jika kemudian terjadi konflik kepentingan. Kadang-kadang konflik ini berujung para upaya untuk saling menundukkan atau saling menguasai. Akibatnya, perang tidak dapat dihindari, yang terus menerus terjadi dari skala yang paling kecil sampai skala yang paling besar, yakni Perang Dunia.
Sesungguhnya, konsep Tuhan yang dituangkan manual standared operational prosedur (SOP) para pemakmur bumi adalah :
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. ( QS 66 : 6 ).
Pertama kali, manusia diperintahkan untuk memelihara dirinya. Setelah dirinya dapat dipelihara, barulah manusia dibebani kewajiban untuk memelihara keluarga. Jadi konsepnya adalah dari diri manusia. Jika bicara masalah diri manusia, maka Rasulullah saw memerintahkan untuk mulailah dari dirimu. Diri manusia sebagai poros siklus kehidupan.
Manusia sebagai poros menjadikan dirinya berada pada posisi yang rentan dan sarat dengan konflik kepentingan antara memenuhi hasrat nafsu dan harapan untuk mencapai derajat mulia. Dan dalam bahasa Tuhan, kondisi manusia yang demikian itu digambarkan dengan sangat indah, yaitu :
Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing . Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? ( QS 55 : 19-21 )
Di situ disebut dua lautan yang mengalir dan keduanya bertemu tanpa ada pembatas antara keduanya tetapi masing-masing tidak saling melampaui. Catatan kaki Tafsir Departemen Agama, tentang hal ini, menulis demikian, “di antara ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa la yabghiyan maksudnya masing-masingnya tidak menghendaki. Dengan demikian maksud ayat 19-20 ialah bahwa ada dua laut yang keduanya tercerai karena dibatasi oleh tanah genting, tetapi tanah genting itu tidaklah dikehendaki (Tidak diperlukan) Maka pada akhirnya, tanah genting itu dibuang (digali untuk keperluan lalu lintas), Maka bertemulah dua lautan itu. seperti terusan Suez dan terusan Panama”.
Apa yang dikemukakan dalam tafsir tersebut memang merupakan upaya untuk melakukan pendekatan dengan kenyataan bahwa ada upaya manusia untuk menyatukan dua lautan yang dibatasi oleh tanah genting sehingga berdirilah Terusan Suez dan Terusan Panama.
Tetapi saya ingin menggambarkannya dari pengalaman perjalanan spiritual, yakni : dua lautan yang dimaksud adalah lautan jasmani dan lautan rohani, sebab dalam ayat tersebut terdapat kata-kata “Dia membiarkan dua lautan mengalir dan kemudian keduanya bertemu”. Dia yang dimaksud adalah Allah, yang mempertemukan jasmani dan rohani melalui proses peniupan roh. Itulah dua lautan itu yang beremu tetapi tidak saling melampaui.
Di antara dua lautan atau di pertemuan dua lautan itulah posisi manusia, sehingga dia juga berada di antara dua kepentingan, yaitu kepentingan jasmani dan rohani. Seperti sebuah pendulum yang kadang bergerak ke arah jasmani dan pada satu ketika bergerak ke arah rohani. Di sinilah urgensi al-jihad-al-nafs. Maka Nabi Muhammad saw menyatakan untuk memulai dari diri sendiri, yakni memulai dengan selalu membuat keseimbangan. Manusia yang selalu berusaha hidup seimbang itulah yang disebut sebagai manusia yang telah mampu memelihara dirinya.
Setelah itu, barulah dia berusaha untuk memelihara keluarganya. Rasanya memang sulit bagi manusia yang belum mampu memelihara dirinya itu akan mampu menyelamatkan keluarganya. Siapa pun akan dapat memimpin orang lain, jika dia lebih dulu memimpin dirinya sendiri.
Nah, manusia yang demikianlah yang dijadikan khalifah atau pemakmur bumi yang besar dan dihuni oleh milyaran manusia.
Bagaimana dengan bumi – dalam makna kiasan – hendak kita bicarakan ? Marilah kita melakukan tafakur sejenak, pada ayat yang sedang kita renungkan ini.
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui. ( QS 2 : 22 ). Perhatikan sahabat pada kata bumi sebagai hamparan bagimu, dan pada ayat lain disebut :
Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. ( QS 43 : 10 )
Pengertian tempat menetap, adalah tempat manusia bermukim. Mari kita tafakuri diri kita. Bukankah di dalam diri kita ada dua unsur, yang disebut unsur bumi atau tanah yaitu jasad, dan unsur rohani, yaitu roh yang ditiupkan oleh Allah dengan sebutan ruhKu. Roh itu mendiami jasad yang terbuat dari bumi. Maka bukankah itu berarti bumi yang dimaksud juga bumi kiasan yaitu jasad manusia ?
Coba perhatikan pula ungkapan “Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk”. Bukankah itu berarti Allah bukan sedang berbicara tentang bumi yang nyata melainkan bumi yang kiasan ? Sebab pada bumi yang nyata, manusialah yang membuat dan membangun jalan. Tetapi pada bumi yang kiasan, yaitu jasad manusia, ada jalan-jalan yang disebut dengan kata subulâ dari kata sabil. Berbeda dengan shirat yang juga berarti jalan – yang acapkali ditafsirkan oleh para mufasir sebagai jalan yang lurus, lebar dan luas – maka sabil adalah jalan-jalan kecil yang menuju ke sebuah shirat, sehingga di sini Allah menggunakan istilah sabil dalam jasad manusia dengan tujuan agar manusia mendapat petunjuk.
Petunjuknya sendiri ada di shirat, karena di sana Allah berada, ini sudah kita bahas sebelumnya. Untuk sampai ke al-shirat al-mustaqim, manusia harus lebih dahulu menyusuri subulâ, yang ada pada jasadnya. Karena :
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? ( QS 41 : 53 ).
Sahabat, saya sedang mengajak kalian merenungkan makna kiasan bumi adalah jasad kita dengan bertafakur atas diri kita, karena memang Allah menyebutkan ada tanda-tanda atau ayat-ayat-Nya pada diri kita. Jalan untuk mendapatkan petunjuk yang ada pada jasad manusia disebut sebagai sabil, yang harus dapat ditemukan. Sebab tanpa menemukan jalan ini, maka manusia tidak akan dapat memperoleh petunjuk.
Tugas kalian, sahabat, adalah mencari tahu dan menemukan jalan-jalan yang ada pada jasadmu melalui perjalanan spiritual. Tetapi, harus saya katakan, sahabat, untuk menempuh jalan ini memang memerlukan sebuah pengorbanan, ketekunan, kerelaan, keikhlasan dan yang terutama adalah keberanian, karena ini semua adalah bagian dari al-jihad al-nafas.
Saya kira pembicaraan tentang bumi, cukup untuk saat ini. Dalam perjalanan panjang kita ini, sahabat, nanti kita pun akan banyak bertemu dengan ayat-ayat yang bercerita tentang bumi, yang tidak kurang terdapat dalam 476 tempat atau ayat. Maka untuk saat ini, cukup yang ini dulu.
Karena sesungguhnya kita ingin membicarakan hal lainnya, yaitu tentang langit. Tetapi saya khawatir kalian sudah lelah, maka pembicaraan mengenai langit, akan kita lanjutkan dalam renungan kita selanjutnya. Saya hanya ingin berpesan kepada kalian sahabat, pergunakanlah waktu luang kalian untuk merenungkan apa yang sudah kita peroleh hari ini. Mudah-mudahan kalian mendapat pencerahan.
Insya Allah.[fat].
Sesampai di rumah, secangkir kopi sudah disiapkan isteri saya menebar aroma yang segar. Lalu, sejenak saya ke kamar, duduk di hamparan sajadah, mengatur nafas perlahan. Menghirupnya dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Menghirupnya dalam-dalam dan membiarkan udara bergerak dalam dada dari kiri ke kanan, dan menghembuskannya sekali lagi. Begitu berulang-ulang sampai keheningan menyergap diriku. Dan dalam keheningan itu semuanya seperti mengalir dalam diri saya, hembusan angin, gemericik air, kicau burung di pagi hari. Semuanya sibuk menyongsong karunia rahmat dari Allah Azza Wa Jalla.
Pagi pun mulai sibuk, isteri saya sibuk, anak-anak saya pun mulai sibuk mempersiapkan diri pergi ke sekolah. Jalan di depan rumah saya pun mulai sibuk, para pekerja pergi ke kantor, para pelajar dan mahasiswa pergi ke sekolah dan ke kampus. Tidak ada yang tidak sibuk. Saya yang pensiunan, apa yang dapat saya lakukan ketika semua sudah beres.
Ah, inilah waktunya aku membuka ruang kearifan dan duduk di dalamnya. Ya Tuhan tolong bimbing saya memahami kehendakMu melalui ayat-ayat dalam Kitab Suci-Mu. Amin.
Sahabat, lalu saya buka mushaf Al Quran, dan saya baca perlahan. Saya coba untuk mencermati untaian kata-kata indah. Tidak hanya indah, tetapi juga penuh hikmah dan ajaran luhur yang turun dari Tuhan Allah swt melalui Rasul PilihanNya Muhammad saw dan yang kemudian menjadi pegangan hidup manusia.
Ayat itu berbunyi demikian :
"Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui". ( QS 2 : 22 ).
Ah, begitu rupa Allah menuntun manusia untuk mengenal Dia dengan mengajak manusia memperhatikan hal-hal yang terdekat dirinya. Coba perhatikan sahabat, di situ disebut bumi, langit, air dari langit, buah-buahan sebagai rezki. Allah memberitahukan kepada kita bahwa yang dinamakan rezki atau rejeki itu bukan hanya buah-buahan, tetapi bumi, langit dan air dari langit juga rejeki dari Allah. Masih ingat kan, ketika kita bicarakan rejeki beberapa waktu yang lalu ? (1). Rejeki adalah segala sesuatu yang bermanfaat atau yang dapat diambil manfaatnya. (2). Rejeki adalah anugerah dari Allah yang sudah disediakan tanpa diminta, sehingga manusia tinggal bekerja mencari atau menggalinya.
Di sini, Allah juga menerangkan sepasang ciptaan-Nya, yaitu bumi dan langit. Bumi dihamparkan, atau dalam bahasa Allah hamparan. Ketika saya mukim selama 4 tahun di Bandung, mereka menyebut tikar dengan kata amparan, dan yang dalam bahasa Jawa disebut klasa, yang berguna untuk duduk léséhan. Duduk léséhan atau bersimpuh biasanya dilakukan oleh abdi dalêm ketika menghadap raja, atau yang dalam istilah Jawa disebut dengan marak séba sowan ngarso dalem.
Jadi ternyata bumi disebut sebagai hamparan itu adalah tempat untuk marak séba sowan Ngarso Dalem Gusti Allah, alias, tempat untuk menghadap kehadirat Tuhan Semesta Alam. Bumi – dengan demikian – adalah tempat bersujud bagi manusia, bukan hanya tempat kita mendirikan rumah, tempat kita bercocok tanam.
Mari kita renungkan, sahabat, tentang bumi ini. Sebelumnya saya ingatkan kembali pada sabda Nabi Muhammad saw, bahwa ayat-ayat Al Quran memiliki makna yang nyata dan ada pula makna kiasan. Maka, kata bumi dalam ayat ini pun memiliki kedua makna itu. Itulah sebabnya, saya ingin mengajak kalian menguak makna yang nyata dan makna kiasan agar kita memperoleh palajaran yang berharga. Karena :
Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. ( QS 7 : 10 ).
Bumi – dalam makna yang nyata – adalah bumi tempat kita bermukim. Di dalam bumi yang nyata ini, terkandung begitu banyak karunia Allah, ladang rejeki bagi manusia semuanya diserahkan pengelolaannya kepada manusia, baik secara sendiri-sendiri, maupun secara kolektif. Dengan pengertian ini, maka manusia diperintahkan untuk memakmurkan bumi.
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." ( QS 11 : 61 ).
Meskipun secara eksplisit ayat tersebut bercerita tentang kaumnya Nabi Shaleh, tetapi – seperti sudah saya sebutkan – ketika kisah itu diceritakan dalam Al Quran, maka Nabi Shaleh itu adalah simbolisasi dari para penerus tugas risalah yang mengingatkan manusia supaya menyadari kedudukan dan fungsinya sebagai khalifah Tuhan. Di sini, Nabi Shaleh menyebutnya dengan istilah pemakmur, yaitu manusia yang bertugas untuk menjadikan bumi ini makmur.
Tetapi dalam perjalanannya, karena bumi yang dihamparkan oleh Allah ini dihuni oleh manusia yang banyak, yang masing-masing membawa kepentingannya, maka tidak mengherankan jika kemudian terjadi konflik kepentingan. Kadang-kadang konflik ini berujung para upaya untuk saling menundukkan atau saling menguasai. Akibatnya, perang tidak dapat dihindari, yang terus menerus terjadi dari skala yang paling kecil sampai skala yang paling besar, yakni Perang Dunia.
Sesungguhnya, konsep Tuhan yang dituangkan manual standared operational prosedur (SOP) para pemakmur bumi adalah :
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. ( QS 66 : 6 ).
Pertama kali, manusia diperintahkan untuk memelihara dirinya. Setelah dirinya dapat dipelihara, barulah manusia dibebani kewajiban untuk memelihara keluarga. Jadi konsepnya adalah dari diri manusia. Jika bicara masalah diri manusia, maka Rasulullah saw memerintahkan untuk mulailah dari dirimu. Diri manusia sebagai poros siklus kehidupan.
Manusia sebagai poros menjadikan dirinya berada pada posisi yang rentan dan sarat dengan konflik kepentingan antara memenuhi hasrat nafsu dan harapan untuk mencapai derajat mulia. Dan dalam bahasa Tuhan, kondisi manusia yang demikian itu digambarkan dengan sangat indah, yaitu :
Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing . Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? ( QS 55 : 19-21 )
Di situ disebut dua lautan yang mengalir dan keduanya bertemu tanpa ada pembatas antara keduanya tetapi masing-masing tidak saling melampaui. Catatan kaki Tafsir Departemen Agama, tentang hal ini, menulis demikian, “di antara ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa la yabghiyan maksudnya masing-masingnya tidak menghendaki. Dengan demikian maksud ayat 19-20 ialah bahwa ada dua laut yang keduanya tercerai karena dibatasi oleh tanah genting, tetapi tanah genting itu tidaklah dikehendaki (Tidak diperlukan) Maka pada akhirnya, tanah genting itu dibuang (digali untuk keperluan lalu lintas), Maka bertemulah dua lautan itu. seperti terusan Suez dan terusan Panama”.
Apa yang dikemukakan dalam tafsir tersebut memang merupakan upaya untuk melakukan pendekatan dengan kenyataan bahwa ada upaya manusia untuk menyatukan dua lautan yang dibatasi oleh tanah genting sehingga berdirilah Terusan Suez dan Terusan Panama.
Tetapi saya ingin menggambarkannya dari pengalaman perjalanan spiritual, yakni : dua lautan yang dimaksud adalah lautan jasmani dan lautan rohani, sebab dalam ayat tersebut terdapat kata-kata “Dia membiarkan dua lautan mengalir dan kemudian keduanya bertemu”. Dia yang dimaksud adalah Allah, yang mempertemukan jasmani dan rohani melalui proses peniupan roh. Itulah dua lautan itu yang beremu tetapi tidak saling melampaui.
Di antara dua lautan atau di pertemuan dua lautan itulah posisi manusia, sehingga dia juga berada di antara dua kepentingan, yaitu kepentingan jasmani dan rohani. Seperti sebuah pendulum yang kadang bergerak ke arah jasmani dan pada satu ketika bergerak ke arah rohani. Di sinilah urgensi al-jihad-al-nafs. Maka Nabi Muhammad saw menyatakan untuk memulai dari diri sendiri, yakni memulai dengan selalu membuat keseimbangan. Manusia yang selalu berusaha hidup seimbang itulah yang disebut sebagai manusia yang telah mampu memelihara dirinya.
Setelah itu, barulah dia berusaha untuk memelihara keluarganya. Rasanya memang sulit bagi manusia yang belum mampu memelihara dirinya itu akan mampu menyelamatkan keluarganya. Siapa pun akan dapat memimpin orang lain, jika dia lebih dulu memimpin dirinya sendiri.
Nah, manusia yang demikianlah yang dijadikan khalifah atau pemakmur bumi yang besar dan dihuni oleh milyaran manusia.
Bagaimana dengan bumi – dalam makna kiasan – hendak kita bicarakan ? Marilah kita melakukan tafakur sejenak, pada ayat yang sedang kita renungkan ini.
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui. ( QS 2 : 22 ). Perhatikan sahabat pada kata bumi sebagai hamparan bagimu, dan pada ayat lain disebut :
Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. ( QS 43 : 10 )
Pengertian tempat menetap, adalah tempat manusia bermukim. Mari kita tafakuri diri kita. Bukankah di dalam diri kita ada dua unsur, yang disebut unsur bumi atau tanah yaitu jasad, dan unsur rohani, yaitu roh yang ditiupkan oleh Allah dengan sebutan ruhKu. Roh itu mendiami jasad yang terbuat dari bumi. Maka bukankah itu berarti bumi yang dimaksud juga bumi kiasan yaitu jasad manusia ?
Coba perhatikan pula ungkapan “Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk”. Bukankah itu berarti Allah bukan sedang berbicara tentang bumi yang nyata melainkan bumi yang kiasan ? Sebab pada bumi yang nyata, manusialah yang membuat dan membangun jalan. Tetapi pada bumi yang kiasan, yaitu jasad manusia, ada jalan-jalan yang disebut dengan kata subulâ dari kata sabil. Berbeda dengan shirat yang juga berarti jalan – yang acapkali ditafsirkan oleh para mufasir sebagai jalan yang lurus, lebar dan luas – maka sabil adalah jalan-jalan kecil yang menuju ke sebuah shirat, sehingga di sini Allah menggunakan istilah sabil dalam jasad manusia dengan tujuan agar manusia mendapat petunjuk.
Petunjuknya sendiri ada di shirat, karena di sana Allah berada, ini sudah kita bahas sebelumnya. Untuk sampai ke al-shirat al-mustaqim, manusia harus lebih dahulu menyusuri subulâ, yang ada pada jasadnya. Karena :
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? ( QS 41 : 53 ).
Sahabat, saya sedang mengajak kalian merenungkan makna kiasan bumi adalah jasad kita dengan bertafakur atas diri kita, karena memang Allah menyebutkan ada tanda-tanda atau ayat-ayat-Nya pada diri kita. Jalan untuk mendapatkan petunjuk yang ada pada jasad manusia disebut sebagai sabil, yang harus dapat ditemukan. Sebab tanpa menemukan jalan ini, maka manusia tidak akan dapat memperoleh petunjuk.
Tugas kalian, sahabat, adalah mencari tahu dan menemukan jalan-jalan yang ada pada jasadmu melalui perjalanan spiritual. Tetapi, harus saya katakan, sahabat, untuk menempuh jalan ini memang memerlukan sebuah pengorbanan, ketekunan, kerelaan, keikhlasan dan yang terutama adalah keberanian, karena ini semua adalah bagian dari al-jihad al-nafas.
Saya kira pembicaraan tentang bumi, cukup untuk saat ini. Dalam perjalanan panjang kita ini, sahabat, nanti kita pun akan banyak bertemu dengan ayat-ayat yang bercerita tentang bumi, yang tidak kurang terdapat dalam 476 tempat atau ayat. Maka untuk saat ini, cukup yang ini dulu.
Karena sesungguhnya kita ingin membicarakan hal lainnya, yaitu tentang langit. Tetapi saya khawatir kalian sudah lelah, maka pembicaraan mengenai langit, akan kita lanjutkan dalam renungan kita selanjutnya. Saya hanya ingin berpesan kepada kalian sahabat, pergunakanlah waktu luang kalian untuk merenungkan apa yang sudah kita peroleh hari ini. Mudah-mudahan kalian mendapat pencerahan.
Insya Allah.[fat].





